Nama : Muhamad Galang Isnawan
NIM : 12709251021
Kelas : A Pendidikan Matematika 2012
Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
Refleksi Pertemuan II (10 September 2012)
DEFINISI
FILSAFAT SEBAGAI JUAL-BELI
Filsafat dimulai dari pertanyaan-pertanyaan. Kapan ranah
filsafat menyangkut ke dalam ranah spiritual? Filsafat tergantung dari objek
dan metodenya. Objek adalah apa yang dipikirkan dan metodenya adalah bagaimana
memikirkannya. Sehingga orang yang tahu bahwa filsafatnya sudah memasuki ranah
spiritual adalah orang yang memiliki pengalaman. Contohnya, seorang muslim akan
menunjukkan keislamannya dengan menambah jumlah intensitas ibadahnya. Jadi, orang
yang melihat akan mengetahui bahwa seseorang tersebut adalah muslim. Artinya,
kita memperlihatkan, baik dari segi ucapan, maupun tindakan bahwa kita adalah
seorang muslim, salah satu contohnya adalah salat. Salat di sini dapat kita
artikan sebagai objek dari filsafat agama sehingga secara tidak langsung sudah
menyangkut ke masalah spiritual. Maksudnya di sini adalah, ketika kita sudah
berusaha berpikir tentang agama dan berusaha untuk menjalankan ibada, kemudian
meningkatkan intensitasnya, maka secara tidak langsung ranah filsafat yang
dipelajari sudah masuk ke dalam ranah spiritual.
Bagaimana
kekurangan dan kelebihan lupa menurut filsafat? Lupa dari sisi filsafat adalah
berdimensi (ruang dan waktu). Lupa tentang apa, dimana, bagaimana, dan manfaat
lupa itu sendiri. Lupa memiliki manfaat, yaitu ketika kita mengalami sesuatu
hal yang sedih di masa lalu untuk kemudian kita menginginkan hal tersebut bisa
kita lupakan. Orang yang tidak lupa adalah diriku yang sedang memikirkannya.
Dan orang yang lupa adalah dirimu yang sedang tidak memikirkannya. Maka hidup
adalah 90% kelupaan. Artinya di sini bahwa ketika kita sedang mempelajari
sesuatu hal, yang kemudian kita menekuni hal tersebut, maka secara tidak
langsung kita sudah melupakan sangat banyak hal karena tidakkah kita menyadari
bahwa hal yang kita pelajari tersebut adalah salah satu dari tak berhingga
banyaknya hal yang ada dalam kehidupan ini. Lupa secara filsafat adalah
abstraksi, reduksi, dan pilihan di bawah sadar. Abstraksi di sini dimaksudkan
bahwa lupa itu adalah sesuatu hal yang tidak pernah bisa kita tunjukkan dengan
sesuatu yang nyata. Reduksi dimaksudkan sebagai kodrat manusia yang hakiki yang
dianugerahkan Tuhan kepadanya sejak mereka lahir. Dan pilihan bawah sadar
diartikan sebagai sesuatu yang merupakan pilihan yang tidak pernah kita sadari
ketika melakukan sesuatu untuk kemudian melupakan sesuatu yang lain.
Filsafat
tidak selamanya harus diungkapkan dalam bahasa kiasan. Filsafat memilki
definisi yang berbeda-beda tergantung dari subjeknya sehingga bahasa yang
digunakan pun berbeda-beda tergantung siapa yang sedang berfilsafat.
Menggunakan bahasa sehari-hari dalam berfilsafat pun tidak pernah menjadi suatu
larangan. Filsafat bukan hanya dari segi bahasa yang digunakan, melainkan dari
segi bagaimana seseorang memikirkan sesuatu kemudian mereka ungkapkan agar
mudah dimengerti dirinya dan orang lain. Dalam berfilsafat benar atau salah itu
berdimensi, bertingkat-tingkat, dan bermacam-macam. Dalam filsafat terdapat dua
macam kebenaran, yaitu benar absolute (spiritual) dan benar material (hukum
alam dan sebab-akibat). Selama segala sesuatu itu ada di dalam pikiran manusia,
maka akan relatif mengenai nilai kebenarannya. Dan jika di dalamnya terdapat
absolutisme, maka hal tersebut akan membawa kepada kegagalan atau kehancuran karena
tidak ada sesuatu pun yang absolutly true kecuali Allah SWT.
Dari
sudut pandang filsafat, pada diri seseoarng pasti terdapat diri orang lain.
Contohnya, di dalam diriku terdapat orang tuaku, kakak-kakaku, keponakan-keponakanku,
dan teman-temanku. Berbicara tentang hakikat filsafat, filsafat akan sangat
berbahaya jika pada awalnya kita tidak percaya akan adanya Tuhan (Allah SWT)
meskipun pada akhirnya setelah berfilsafat itu selesai mereka akan percaya
mengenai adanya Tuhan. Bagaimana mungkin seseorang akan membangun pengetahuan
jika mereka tidak memiliki kepercayaan akan apa yang sedang mereka pelajari.
Bagaimana mungkin seorang murid akan memiliki pengetahuan jika mereka tidak
percaya kepada gurunya.
HERMENEUTIKA
dalam filsafat tidak hanya sekedar dipelajari tetapi dilaksanakan. Istilah ini
berasal dari Yunani. Yunani memiliki peradaan penting dalam filsafat dan
menjadi acuan dalam berfilsafat. Hal ini disebabkan karena bangsa Yunani meliki
dokumen-dokumen tentang filsafat dan secara substansi bangsa Yunani adalah
bangsa yang pertama kali merubah Mitos menjadi Logos. Musuh besar berfilsafat
adalah MITOS. Contohnya, salat itu akan menjadi mitos jika kita tidak berusaha
untuk mempelajarinya, memahaminya, dan meningkatkannya. Filsafat dalam
berkembang atu tidak berkembangnya tidak dipengaruhi oleh apa pun. Filsafat yang
paling menonjol sekarang ini adalah filsafat bahasa. Tidak ada suatu apa
pun di dunia ini meskipun memliki
kekuasan yang besar yang akan mampu mempengaruhi filsafat bahasa ini. Karena
hidup tidak pernah terlepas dari komunikasi. Setiap kata mewakili dunianya.
Ada
yang seru di bagian akhir tulisan ini, jika kita disuruh memilih salah satu antara
aman dan nyaman, mana yang akan kita pilih. Orang yang berfilsafat pasti akan
aman meskipun tidak nyaaman. Hal ini merepresenatsikan bahwa nyaman tetapi
tidak aman adalah nyaman yang sementara dan aman tetapi tidak nyama adalah
ujian.
Pertanyaan:
Bagaimanakah hubungan
anatara filsafat dengan ilmu bidang dan aplikasi? Apakah setinggi-tinggi ilmu
bidang tidak akan pernah menyentuh ranah filsafat?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar