NIM: 12709251021
Kelas: A Pendidikan Matematika 2012
Mata Kuliah: Filsafat Ilmu
Refleksi Pertemuan I (3 September 2012)
DEFINISI FILSAFAT
Filsafat mempelajari tentang segala sesuatu sebagai sesuatu yang hidup.
Ada perbedaan mendasar antara filsafat dengan matematika. Dalam
matematika, kita mempelajari sesuatu yang abstrak menjadi sesuatu yang
konkrit. Akan tetapi, dalam filsafat kita mempelajari sesuatu yang
konkrit menjadi sesuatu yang abstrak (keabstrakan dalam
keterang-benderangan). Filsafat atau ranah filsafat dalam aplikasinya
sering kali menyinggung ranah spiritual. Dalam urutannya ranah filsafat
berada di bawah ranah spiritual. Perhatikan gambar di bawah:
Sekarang perhatikan gambar 1 dan gambar 2!
Kemudian bandingkan apa saja yang menjadi perbedaan!
Pada
gambar 1, kita dapat melihat bahwa tidak terjadi singgungan antara
ranah filsafat dengan ranah spiritual. Akan tetapi, sebaliknya pada
gambar 2 terjadi singgungan antara ranah filsafat dengan ranah
spiritual. Hal ini diartikan bahwa kadang-kadang ketika seseorang sedang
berfilsafat, seseorang tersebut akan menemukan sesuatu yang pemikiran
yang menyinggung atau kontradiksi dengan ranah spiritual. Untuk
penjelasan lebih lanjut, ikuti bacaan tulisan ini sampai selesai.
Intinya, sebaik-baik filsafat tidak akan menjadikan diri kita jauh dari
agama. Ini dimaksudkan, setinggi-tingginya filsafat belum dikatakan baik
jika di dalamnya terdapat kontradiksi antara ranah filsafat dengan
ranah spiritual. Perbandingan filsafat dengan spiritual adalah 1 : 10.
Artinya, ketika kita mempelajari satu hal tentang filsafat, maka
pelajarilah atau lakukanlah atau perkuatlah spiritual atau ibadah anda
sebanyak sepuluh hal.
Filsafat dapat didefinisikan sebagai separuh pengalaman dan separuh
logika. Maksudnya, kita tidak mungkin bisa berfilsafat mengenai sesuatu
hal jika kita tidak memiliki pengalaman dan logika mengenai sesuatu hal
tersebut. Adapun hal-hal yang perlu dipelajari sebelum memulai suatu
perkuliahan filsafat adalah mempelajari mengenai filsafat Yunani Kuno,
perkembangannya sampai sekarang, dan tokoh-tokoh penting yang terlibat
di dalamnya. Berfilsafat dapat juga kita awali dengan gemar berdiskusi
mengenai sesuatu. Filsafat dapat didefinisikan menjadi beberapa poin
penting, salah satunya adalah sebagai suatu PENJELASAN. Dan bahkan
filsafat juga dapat didefinisikan sebagai apapun. Hal ini
mengindikasikan bahwa filsafat adalah hak setiap orang dan setiap orang
bisa berfilsafat. Dalam filsafat, ada tidak perlunya melibatkan orang
lain dan bisa tidak perlu melibatkan orang lain. Hal inilah juga yang
membedakan antara filsafat dengan politik. Tidak semua orang bisa
berpolitik karena berpolitik harus melibatkan orang lain.
Spiritual tidak bisa dipahami hanya dipikiran saja tetapi hati.
Dalam ranah ini, hati bisa berilmu. Sebelum mempelajari filsafat
tetapkanlah terlebih dahulu hati kita, komandan kita, yang menuntun kita
karena tidak mungkin kita bisa mengetahui ranah spiritual hanya
menggunakan akal. Logikanya, tidaklah semua pikiran kita mampu
memikirkan semua perasaan kita. Berbicara mengenai manfaat filsafat,
kita bisa saja mengatakannya sebagai manfaat dari pikiran kita. Karena
poin selanjutnya yang menjadi definisi filsafat adalah POLA PIKIR.
Filsafat tidak sekedar berpikir, filsafat adalah berpikir yang reflektif
yang bersifat intensif (sedalam-dalamnya) dan ekstensif
(seluas-luasnya). Dalam berfilsafat menggunakan bahasa analog (bahasa
yang jauh lebih dan lebih tinggi tingkatannya dari bahasa kiasan).
Adapun objek filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada.
Hal ini juga menjadi aturan kita dalam berfilsafat. Dari sini, kita juga
dapat melihat perbedaan antara filsafat dengan spiritual. Maksudnya,
Tuhan (ALLAH SWT) sudah pasti (absolutly) ada di dalam hati kita, apalah
daya dan kemampuan kita untuk memikirkan-Nya. Meskipun di dalam agama
ada berpikir tetapi porsinya dibatasi.
Adapun cara meningkatkan kemampuan berfilsafat adalah dengan
cara BACA, BACA, BACA, BACA LAGI, BACA LAGI, BACA LAGI, DAN BACA LAGI,
DAN BACA LAGI, DAN BACA LAGI. Filsafat dimulai dari hal-hal yang kecil.
Kemudian mempelajari sumber-sumber dari pemikiran para filsuf. Metode
berfilsafat ada dua macam, yaitu terjemah dan menterjemahkan
(HERMENEUTIKA). Dalam filsafat, jawaban benar atau salah itu ada. Akan
tetapi, hal tersebut bukanlah hal yang terpenting, melainkan bagaimana
alasan atau penjelasan terhadap suatu jawaban tersebut bisa terjadi.
Selain itu, ada juga persiapan mendasar yang harus kita pelajari sebelum
berfilsafat, yaitu kontradiksi dalam pikiran itu boleh terjadi tetapi
janganlah sesekali kontradiksi dalam hati kita. Adapun hubungan antara
pola pikir dan filsafat itu adalah hubungan untuk refleksi dari metafisi
secara tidak langsung, kontradiksi mucul sebagai buah-buah, dan akan
lebih mudah dipahami dari pada langsung dihubungkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar