Selasa, 16 Oktober 2012

Refleksi Ke-5 (15 Oktober 2012)


Refleksi ke-5 (15 Oktober 2012)

Logika Bukanlah Logicism
Pikiran itu analitik apriori, sedangkan pengalaman adalah sintetik aposteriori. Dewa adalah yang ada dan yang mungkin ada. Dewa itu adalah diriku sendiri adalah sifat-sifatku. Yang sudah tahu kesalahan para dewa adalah dewa. Marilah kita bereksperimen terhadap ruang dan waktu. Ruang menunjukkan waktu. Maka untuk memahami waktu itu menggunakan ruang dan begitulah sebaliknya. Tesis adalah semua yang ada dan mungkin ada. Maka anti-tesisnya adalah semua yang ada dan mungkin ada yang lainnya. Sintesis adalah berpikir kritis yang mengkritisi tesis dan anti-tesisnya. Atau dengan kata lain diantara tesis dan anti-tesis terdapat sintesis. Di antara tesis dan anti-tesis itu adalah sintesis itulah logos, hidup, dunia, dan sebagainya.
Perenungan filsafat adalah berpikir refleksif, sedangkan berpikir ilmiah adalah metodologis. Sebetulnya, orang tidak akan bias lepas dari kanopi. Tulang haruslah dibungkus oleh daging. Sejujur-jurnya manusia pasti memiliki rasa tidak jujur dalam dirinya. Tanpa adanya kategori kita tidak dapat membedakan antara yang satu dan yang lain. Sehingga sebenar-benar ilmu adalah kategori. Tidak mungkin kita bias lepas darikategori.
Orang yang selalu berusaha sempurna filsafatnya disebut perfectionism. Adapun caranya adalah dengan selalu belajar. Akan tetapi, tidak akan adalah sesuatu yang sempurna di dunia ini karena itulah kodrat manusia yang diciptakan dengan bermacam kelebihan dan kekurangan.
Dalam logicism memang benar terdapat logika. Tetapi filsafat yang mempelajari logika bukanlah logicism. Tokoh logicism adalah Sir Bertrand Russel. Aristoteles adalah bapak logika tetapi bukanlah logicism. Menurut logicism menganggap semua matematika yang ada itu mampu dilogikakan. Akan tetapi, logika bukan hanya pada matematika, ada juga logika orang awam. Intinya, ketika semua yang ada dalam matematika itu mampu dilogikakan, maka itulah logicism. Dan bukanlah logika itu termasuk ke dalam logicism karena juga terdapat logika yang bukan hanya pada matematika, tetapi juga pada orang awam.   

Sabtu, 29 September 2012

Refleksi Pertemuan ke-4 (24 September 2012)


Nama              : Muhamad Galang Isnawan

NIM                : 12709251021

Kelas               : A

Prodi               : Magister Pendidikan Matematika 2012

 

ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT

 

            Filsafat terbagi menjadi bermacam-macam aliran. Adapun dalam refleksi ini, saya akan mereduksi bebrapa aliran dan akan membahas tiga aliran saja, yaitu metafisika, etika, dan epistemology. Berikut penjelasannya.

1.        Metafisika

Metafisika adalah suatu pembahasan filsafati yang komprehensif mengenai seluruh realitas atau tentang segala sesuatu yang ada. Metafisika ini dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu:

a.       Yang mengenai kuantitas (jumlah)

1)      Monoisme adalah aliran yang mengemukakan bahwa unsur pokok segala yang ada ini adalah esa (satu).

Menurut Thales: air.

Menurut Anaximandros: 'apeiron'

Menurut Anaximenes: udara.

2)      Dualisme adalah aliran yang berpendirian bahwa unsur pokok individual terdiri atas dua, yaitu material dan mental.

3)      Pluralisme aliran yang berpendapat bahwa unsur pokok individual terdiri atas banyak.

Menurut Empedokles: udara, api, air dan tanah.

b.      Yang mengenai kualitas dibagi juga menjadi dua bagian besar, yakni:

1)      Yang melihat hakikat kenyataan itu tetap.

a)      Spiritualisme, yakni aliran yang berpendapat bahwa hakikat itu bersifat roh.

b)      Materialisme, yakni aliran yang berpendapat bahwa hakikat itu bersifat

materi.

2)      Yang melihat hakikat kenyataan itu sebagai kejadian.

a)      Mekanisme, yakni aliran yang berkeyakinan bahwa kejadian di dunia ini berlaku dengan sendirinya menurut hukum sebab-akibat.

b)      Aliran teleologi, yakni aliran yang berkeyakinan bahwa kejadian yang   satu berhubungan dengan kejadian yang lain, bukan oleh hukum sebab-akibat,   melainkan semata-mata oleh tujuan yang sama.

c)      Determinisme, yaitu aliran yang mengajarkan bahwa kemauan manusia itu tidak merdeka dalam mengambil putusan-putusan yang penting, tetapi sudah terpasti lebih dahulu.

d)     Indeterminisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa kemauan manusia itu   bebas dalam arti yang seluas-luasnya.

 

2.        Aliran-aliran Etika

Etika membahas baik-buruk atau benar-tidaknya tingkah laku dan tindakan manusia serta sekaligus menyoroti kewajiban-kewajiban manusia. Aliran-aliran penting dalam etika banyak sekali, diantaranya ialah:

a.         Aliran etika naturalisme, yaitu aliran yang beranggapan bahwa kebahagiaan manusia itu diperoleh dengan menurutkan panggilan natural (fitrah) kejadian manusia sekali.

b.         Aliran etika hedonisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa perbuatan susila itu ialah perbuatan yang menimbulkan 'hedone' (kenikmatan dan kelezatan).

c.         Aliran etika utilitarianisme, yaitu aliran yang menilai baik dan buruknya perbuatan manusia ditinjau dari kecil dan besarnya manfaat bagi manusia (utility = manfaat).

d.        Aliran etika idealisme, yaitu aliran yang menilai baik buruknya perbuatan manusia janganlah terikat pada sebab-musabab lahir, tetapi haruslah didasarkan atas prinsip kerohanian (idea) yang lebih tinggi.

e.         Aliran etika vitalisme, yaitu aliran yang menilai baik-buruknya perbuatan manusia itu sebagai ukuran ada atau tidak adanya daya hidup (vital) yang maksimum mengendalikan perbuatan itu.

f.          Aliran etika theologis, yaitu aliran yang berkeyakinan bahwa ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia itu dinilai dengan sesuai atau tidak sesuainya dengan perintah Tuhan (Theos = Tuhan).

 

3.        Epistemologi

Aliran ini mencoba menjawab pertanyaan, bagaimana manusia mendapat pengetahuannya sehingga pengetahuan itu benar dan berlaku.

a.       Golongan yang mengemukakan asal atau sumber pengetahuan

Termasuk ke dalamnya:

1)      Rationalisme, yaitu aliran yang mengemukakan bahwa sumber pengetahuan manusia ialah pikiran, rasio dan jiwa manusia.

2)      Empirisme, yaitu aliran yang mengatakan bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari pengalaman manusia, dari dunia luar yang ditangkap pancainderanya.

3)      Kritisisme (transendentalisme), yaitu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari luar maupun dari jiwa manusia itu sendiri.

b.      Golongan yang mengemukakan hakikat pengetahuan manusia.

Termasuk ke dalamnya:

1)      Realisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambar yang baik dan tepat dari kebenaran dalam pengetahuan yang baik tergambarkan kebenaran seperti sungguh-sungguhnya ada.

2)      Idealisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan itu tidak lain daripada kejadian dalam jiwa manusia, sedangkan kenyataan yang diketahui manusia itu sekaliannya terletak di luarnya.

 

4.        Aliran-aliran Lainnya dalam Filsafat

Di samping aliran-aliran di atas, masih banyak aliran yang lain dalam filsafat. Aliran-aliran itu antara lain, yaitu:

a.       Eksistensialisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia yang kongkret, yaitu manusia sebagai eksistensi, dan sehubungan dengan titik tolak ini. maka bagi manusia eksistensi itu mendahului esensi.

b.      Pragmatisme, yaitu aliran yang beranggapan bahwa benar dan tidaknya sesuatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung pada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak di dalam kehidupannya.

c.       Fenomenologi, yaitu aliran yang berpendapat bahwa hasrat yang kuat untuk mengerti yang sebenarnya dan keyakinan bahwa pengertian itu dapat dicapai jika kita mengamati fenomena atau pertemuan kita dengan realitas.

d.      Positivisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa filsafat hendaknya semata-mata berpangkal pada peristiwa yang positif, artinya peristiwa-peristiwa yang dialami manusia.

e.       Aliran filsafat hidup, yaitu aliran yang berpendapat bahwa berfilsafat barulah mungkin jika rasio dipadukan dengan seluruh kepribadian sehingga filsafat itu tidak hanya hal yang mengenai berpikir saja, tetapi juga mengenai ada, yang mengikutkan kehendak, hati, dan iman, pendeknya seluruh hidup.

 

 

Referensi:

Rapar, Jan Hendrik. 2002. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

http://peta-ilmu.blogspot.com/2011/03/pengertian-filsafat-cabag-cabang.html.

Sabtu, 22 September 2012

Refleksi Pertemuan III (18 September 2012)


Nama              : Muhamad Galang Isnawan
NIM                : 12709251021
Kelas               : A
Prodi               : Magister Pendidikan Matematika 2012

FILSAFATKU OTAKKU
(18 September 2012)
            Filsafat disebut sebagai ibu dari ilmu pengetahuan. Hal ini disebabkan karena memiliki objek semua yang ada dan mungkin ada. Jawaban ada atau tidak mungkin ada itu tidaklah terlalu penting, yang terpenting adalah penjelasan. Sangat mengadakan tidak ada. Ketika berbicara tentang kata tidak ada, kita sebenarnya sudah mengadakan tidak ada tersebut. Dibicarakan saja sudah bisa, apalagi untuk dipikirkan. Begitulah logikanya. Ada sistem waktu, yaitu A (kemarin, sekarang, dan akan datang) dan B (sebelum, peristiwa, dan sesudah). Tidak adalah kita mampu menunjuk waktu yang sekarang meskipun dengan kecepatan cahaya sekali pun. Ketika kita menunjuk waktu sekarang, sebenarnya ketika kita menunjuk tersebut waktu sudah berubah menjadi lampau, belum selesai kita menunjuk, waktu sudah berubah menjadi lampau. Hal ini disebabkan karena waktu lampau, sekarang, dan akan datang adalah satu kesatuan. Oleh karena itu, waktu yang sekarang didefinisikan dengan waktu yang lampaudan akan datang. Implementasinya adalah kita hidup tidak bisa terputus dari waktu sekarang, lampau, dan akan datang. Sehingga kejadian hidup banyak dikaitkan dengan waktu. Ketika kita berbicara tentang hidup yang sehat adalah sama artinya dengan filsafat hidup sehat. Dalam hidup haruslah melalui beberapa tahapan-tahapan sistematis. Dalam hidup sering juga terjadi masalah yang tidak sehat, yaitu ketika seseorang datang seketika dan pergi juga tidak ada kabar.
            Berbicara tentang filsafat mimpi. Seribu satu macam mimpi telah kita temui. Objeknya satu, yaitu satu mimpi tetapi metodenya berdimensi. Dalam filsafat, jika kita bisa menggunakan metode ilmiah untuk membuktikan pemikiran kita, maka gunakanlah. Akan tetapi jika tidak, maka gunakanlah hipotecikal analisis. Jika orang yang yang menguji kebenaran tersebut berpengalaman, maka dinamakan refleksi tetapi jika sebaliknya, maka dinamakan “ngawur”. Jika kemudian hal tersebut tidak dapat dibuktikan, maka serahkanlah semuanya kepada Allah SWT dan yakinlah bahwa itu adalah kodrat yang dimilki oleh hal tersebut. Contohnya, mimpi. Dunia metode dan pendekatan adalah epistemologi. Genetik epistemologi, mempelajari mimpi berdasarkan sistem kerja otak. Tidak pernah ada yang menjamin kebenaran mimpi hanya dengan menggunakan hipotetical saja. Ada hal yang menarik tentang mimpi, ketika seorang rasul atau nabi bermimpi biasanya mimpi tersebut adalah ilham dari Allah SWT.  Ilham adalahn sesuatu yang jelas datangnya secara tiba-tiba. Bahkan ada seorang presiden di Uganda yang bernama Idiamin, menggunakan mimpinya dalam mengambil keputusan. Banyak hal yang dapat kita simpulkan dari mimpi, tetapi percayalah bahwa mimpi orang-orang seperti kita adalah hanya sekedar bunga tidur dantidak bisa dibuktikan kebenarannya.
            `Selanjutnya, beralih ke pembicaraan mengenai kebimbangan dalam hidup. Bimbang secara filsafat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bimbang dalam pikiran dan bimbang dalam hati. Kembangkankanlah kebimbangan sebesar apapun dalam pikiran kita karena itu akan membuat kita menjadi berpikir atau awal dari pengetahuan. Akan tetapi, janganlah kita membiarkan kebimbangan sekecil apapun di dalam hati kita. Karena kebimbangan semacam itu adalah seekor iblis.
Pribadi yang teguh adalah pribadi yang berikhtiar menggapai harmoni. Pribadi yang selalu berikhtiar, yang fleksibel, yang sesuai dengan konteks, dan kreatif (tidak berhenti mencari metode). Allah SWT telah menciptakan kita alam semesta beserta isinya agar kita mampu mengolahnya demi tercapainya suatu harmoni di dalam dunia ini.
Semua ilmu muncul setelah era Auguste Comte. Bedakan antara ilmu dan pengetahuan. Ilmu adalah terstruktur dalam wadahnya dan saling berkaitan. Sedangkan pengetahuan bersifat singular. Objek yang pertama dipelajari adalah objek alam. Hakekat yang membedakan adalah setiap yang ada dan mungkin ada adalah dimensinya. Yang membedakan orang yang satu dengan yang lain adalah dimensinya. Berpikir dapat kita bedakan menjadi tiga macam berpikir, yaitu berpikir biasa, ilmiah, dan filsafat. Berpikir biasa adalah berpikirnya orang awam atau biasa-biasa. Antara berpikir biasa, ilmiah, dan filsafat yang membedakannya objek dan metodenya. Berpikir biasa tidak bersifat sistematis. Kemudian polanya pun tidak ada. Sedangkan berpikir ilmiah diperkuat oleh logika dan evidence. Berpikir filsafat merangkum semua metode yang ada. Berpikir filsafat adalah filsafat ilmu atau epistimologi. Kesemuanya ini tidak lepas dari ilmu pengetahuan, bagaimana perkembangannya, dan referensinya. Berpikir biasa termasuk ke dalam kualitas tingkat satu (metafisik) karena hanya melihat dari luarnya saja. Sedangkan kualitas tingkat dua adalah mengapa dan jarang berpikir biasa masuk ke dalam tingkatan ini. Filsafat termasuk ke dalam tingkat tiga, empat, dan selanjutnya (metafisik). Atau bahasa kasarnya disebalik yang ada, di sebalik yang ada, dan seterusnya. Anak kecil adalah salah satu contoh berpikir biasa, bahkan mitos. Kita tidak bisa memaksakan anak kecil menggunakan logos. Berpikir biasa (common sense) adalah bahasa yang paling mudah dipahami, contohnya bahasa elegi. Ketika bahasa kita sulit untuk diterima orang awam, maka kita pasti mengalami masalah, terutama dalam filsafat. Sebenarnya, filsafat dalam elegi bertujuan agar kita terampil dalam mengungkapkan bahasa kualitas tinggi. Bahasa biasa dipelopori oleh J.E. Moore.
Sekarang, kita beralih konteks pada masalah keajaiban dan mukjizat. Keajaiban dari sudut pandang filsafat adalah sesuatu kejadian yang tidak bisa dijelaskan. Keajaiban biasanya berkonotasi positif. Keajaiban lebih dari sekedar gambling atau perjudian. Sedangkan mukjizat adalah segala sesuatu yang konotasinya datang dari Allah SWT dan yang mendapatkannya hanyalah para nabi dan rasul. Mukjizat sudah pasti ajaib tetapi ajaib belum tentu mukjizat.
Tidak ada dan ada. Keberadaan tidak ada sama pentingnya dengan ada. Contohnya, ruang hampa udara yang sangat berguna bagi penelitain mengenai luar angkasa, tidak ada pertikaian, tidak ada utang, dan lain sebagainya. Antara tidak ada dan ada itu ada dimensinya.
Filsafat bisa bersifat subjektif, individual, kelompok, negara, dan sebagainya. Kapan saatnya kita berhenti berpikir, yaitu ketika kita sedang berdoa. Tidak akan khusuk doa seseorang tersebut ketika mereka masih menggunakan otaknya untuk berpikr pada saat mereka berdoa.  Doa merasuki segala aspek yang ada dan yang mungkin ada di dalam hidup kita. Setinggi-tinggi dimensi berfilsafat seseorang adalah ketika dia sudah mampu untuk membangun dunia kemampuannya. Membangun filsafat adalah rangkaian atau tali-temali yang pilar-pilarnya adalah pendapat para filsuf.  Setiap yang ada dan mungkin ada dalam hidup harus bisa kita rinci secara baik. Ketika industri-ekonomi-kuasa bergabung, maka terbentuklah kapitalism.
Berfilsafat sebenarnya berusaha mengenal berusaha mengenal diri sendiri. Dan sayangnya, tidaklah ada orang yang benar-benar mengenal dirinya sendiri, melainkan hanya berusaha untuk mengenal diri sendiri. Akan tetapi, ketika ada orang yang beranggapan bahwa mereka sudah mengenal dirinya sendiri, berarti dia sudah mengaku bahwa dia sudah mengenal ruhnya. Tidak ada satu orang pun yang mampu menjelaskan ruhnya. Bedakan antar penjelasan dan kenal. Kenal bersifat komplementer dan sebenar-benar adalah penjelasannya. Secerdas-cerdas orang adalah dia yang berani mengambil keputusan. Hal ini adalah tingkatan filsafat yang paling tinggi.  Sebenar-benar filsafat adalah penjelasannya. Berbicara tentang kepribadian ganda dari tolak ukur filsafat. Kepribadian ganda berdasarkan filsafat termasuk ke dalam ranah psikologi. Turunan yang paling dekat dengan filsafat adalah psikologi. Kepribadian ganda disebabkan oleh keadaan tidak sehat, semisal banyaknya goncangan, disharmoni, gangguan kesehatan-emosi-sosial-ekonomi. Kepribadian ganda biasanya terjadi akibat adanya potensi orang lain yang sangat kuat di dalam diri seseorang sehingga muncullah filsafat determinasi. Filsafat determinasi adalah filsafat yang menggunakan power mind dalam menerapkannya. Contohnya, seorang anak aktor holywood yang sangat menginginkan anak laki-laki, sampai-sampai dia mendidik anak perempuannya agar menjadi laki-laki dari kecil. Dia memberikan perlakuan layaknya anak laki-laki terhadap anak tersebut dari kecil. Sehingga pada akhirnya, ketika anak itu sudah dewasa dan orang tuanya sudah meninggalkan, dia pun memutuskan untuk menjadi laki-laki dengan mengoperasi payu daranya dan menyuntikkan hormon testosteran ke dalam tubuhnya dan mengakibatkan suaranya berubah dengan seketika.

Pertanyaan:
Bagaimanakah hakikat doa dari sudut pandang filsafat spiritual?